BramaDipo: #BatPoet

Pages

Tampilkan postingan dengan label #BatPoet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #BatPoet. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Agustus 2015

Arakata



Anak-ku lahir 7 malam sebelum purnama. Ia datang saat para mantri nagara sedang bermain drama. Dan maharaja sibuk merapikan mahkota.

Ari-ari nya kutanam di sebelah pohon beringin putih yang berbunga satu persatu, malu malu.

Kutanam bersama bangle agar ia terjaga dan memberi hidup bagi kehidupan di atasnya.

Anak-ku lahir 7 malam sebelum purnama, saat kemarau akan memasuki puncaknya di mangsa ke tiga.

Saat api membakar pegunungan, saat gunung memuntahkan lahar, saat ketidakpastian dihadapan dan saat bahan makanan terlilit harga.

Anakku yang lahir 7 malam sebelum purnama, semoga engkau menjadi pelindung yang bijak bagi cahaya-cahaya suci yang kehilangan kilau-nya.

Dan menjaganya agar tetap menyala di hati para pemangku rasa dan raga di atas bentala nagara, nusantara.

Selamat 7 malam nak, purnama telah menggeliat di sudut barat. Berwarna jingga dengan cahaya penuh membulat.

Selamat purnama nak, semoga semesta memberkatimu dan mempersilahkanmu menikmatinya serta kau pun turut menjaganya.









11

Minggu, 14 Juni 2015

Kiblat Rindu


Kini kiblat rindu tidak hanya ada di sudut ingat.

Ia memadat ke sekelilingku dalam bentuk materi dan memuai mengisi udara.

Penuh menyeluruh, menjadikannya warna-warna.

Rindu, Rinduku, memenuhi ruang udara.



#PotMode

Rabu, 06 Mei 2015

Berkawan Iblis

Ooo..

Jadi agar kau dapat muncul ke permukaan,

Maka kau tenggelamkan aku? 

Agar kau dapat selamat,

Maka kau bunuh aku?

Supaya kebaikan ada padamu,

Maka keburukan kau pahat didahiku?

Agar namamu harum,

Maka kau busukkan sikapku?


Terima kasih kawan,

Kebusukkan telah menjadi guru-ku,

Keburukan sudah kunikmati sedari dulu,

Aku telah mati dalam kematianku,

Dan aku memiliki insang untuk bernafas panjang.


Tak perlu takut kawan,

Aku tidak menyimpan dendam.

Sikapmu sudah aku perhitungkan,

Karena Iblis telah memberiku pengetahuan.

Dan hanya iblis pula yang bersikap demikian.


Terima kasih kawan,

Ku ucapkan.







11

Rabu, 29 April 2015

Menemukanmu Dalam Bentuk Asap Dan Abu



Aku menemukanmu pada bejana berisi dupa,
Teronggok berwarna kelabu dalam bentuk abu.
Dan kini engkau membisu,
Tak lagi riuh memanggil namaku.

Dulu,
Itu dulu.

Sekarang, hanya lalat yang mengerubungiku dengan dengung bernada datar.
Dan hanya ayam jantan yang mengucapkan selamat pagi dari balik bilik kamar.

Aku menemukanmu pada puntung rokok yang baru saja kumatikan.
Mengepul sesaat dalam bentuk asap.
Dan kini, engkau menghilang.
Tak lagi isi kekosongan ruang.





11

Rabu, 15 April 2015

*****












" Jika mati adalah jawaban dari kesulitan, 

Maka aku akan hidup untuk bertahan. "

 Aku.











11

Tak Ada Benih, Tak Ada Bunga







" Seperti memisahkan pantai dan laut, lalu memberi jarak antara-nya.

Seperti juga inginmu, yang belum tentu dapat kucerna."




Mengipas bara agar menyala,

Sedang kayu sudah tak ada.

Memasak air diatas bejana,

Saat hari tak bercahaya.




Tak ada benih, 

Tak ada bunga.

Tak ada air, 

Tiba-lah dahaga.




Biarkan angin, 

Menempa udara.

Mengisi hidup, 

Milikmu juga.











11

Sabtu, 11 April 2015

Rayakan Senja Dengan Kopi Tanpa Gula.





Burung kuntul terbang dengan formasi penunjuk arah akan kemana ia pergi.

Dan selalu saja ada yang tertinggal di belakangnya seorang diri.

Dengan ketinggian lebih rendah dari kelompoknya,

Disertai kepakan yang teratur,

Mengikuti arah yang selalu saja sama,

Menuju timur.



Kopi kuteguk,

Ampas tersisakan.

Sebelum dingin merenggut,

Aroma kehangatan.




Kini Senja telah datang

Dan ampas ku-buang.












11

Kamis, 09 April 2015

Ajag.





Jadi, akankah kau torehkan luka yang sudah menganga ini?

Dengan belati yang terbalut karat agar aku segera sekarat?

Atau benamkan aku kedalam tungku penuh abu? 

Lalu kau tarik lagi dan benamkan lagi?


Aku bukan penjahat figuran yang mati lalu hidup kembali. 

Aku adalah tuan yang membayarmu untuk duduk disinggasana itu bersama gerombolanmu.


Ajag. 

Kumuntahkan saja dengan nada. 

Sebab mereka sudah tak punya muka.












11

Selasa, 07 April 2015

Daniel Johnston Dan Aku












Ide-ide bertaburan,

Seperti pasir di saku celana saat bermain di pantai.

Memenuhi setiap ruang,

Lalu hilang saat hari pencucian.

Tak berbentuk,

Hanya-lah butiran.



Daniel Johnston bernyanyi,

Dengan ketukan cepat.

Instrumen dan vokal saling berkejaran,

Memastikan siapa yang akan jadi pemenang.

Lalu berhenti, sunyi yang menang.



Ohh nada-nada miring,

Kemanakah genap mengiring?

Haruskah aku berpura-pura menjadi periang,

Yang menyanyikan lagu disini senang disana senang?



Ide-ide terhenti,

Bersamaan dengan lampu yang mati.

Kini kamarku gelap,

Meninggalkanku dalam lantunan mp3 bajakan Daniel Johnston “I Picture Myself With A Guitar.”










11

Minggu, 29 Maret 2015

Akar Kehidupan Negeri



Daun yang gugur dapat terbarukan,

Meski bukan daun yang sama.

Begitu pula ranting yang patah,

Terbarukan walau berlainan.

Sesungguhnya jika akar yang mati,

Maka berakhir-lah pohon kehidupan.



Rawatlah pohon sedari akar.

Bukan sedari ranting, daun maupun bunga.

Rawatlah negeri ini sedari rakyat.

Bukan sedari menteri, perwakilan maupun pejabat.

Sebab, jika rakyat yang mati,

Maka berakhir pula-lah negeri ini.











11

Rabu, 25 Maret 2015

Waktu, Menelan Harap





Dari arah utara - ke arah selatan
Dengan penunjuk barat dan timur.
Hari berupa bilangan.
Dan ditandai oleh huruf-huruf mati.

Bulan bercahaya melengkung menajam,
Layaknya sebuah senyuman.
Namun yang kulihat hanyalah gelap,
Di langit, bumi dan dunia harap.

Sebab aku tak ada disini.

Jam dinding berputar dengan sombong,
Kerongkonganku-pun seperti menelan biji kedondong.

Memamerkan keperkasaannya,
Meninggalkan yang tertinggal.

Tak ada kompromi,
Tiada negoisasi.
Tak dapat dibohongi,
Tak bisa di curangi.
Mewakili kepastian Tuhan.
Merepresentasikan ke-fana-an.

Manfaatkanlah.
Ia dicipta karena-nya.
Pergunakanlah,
Ia ada beserta-nya.

Atau,
Ia akan meninggalkanmu dalam kehilangan.
Ditengah sepi dengan kepastian.

Ya,
Kematian.











11

Jumat, 20 Maret 2015

#DisiplinKopi


Sudutkan aku,

Sudutkan saja.

Lukai aku,

Lukai saja.



Setelah itu biarkan aku,

Menikmati Senja bersama pekat hitam kopi-ku.











11

Senin, 16 Maret 2015

Terdampar di Laut Mati


Para penipu telah tertipu.

Para pendusta terpedaya.

Menggadaikan nusantara pada sengketa.

Menjual isinya pada para pencela.



Kini,

Negeri ini seperti perahu yang tak memiliki layar,

Ditengah laut yang mati tak ber-arus dan mendayung hanya dengan menggunakan lengan.


Tanpa arah,

Tanpa nahkoda.

Tanpa angin

Dan tanpa memakna.











11

Sabtu, 14 Maret 2015

***




Menemukan cahaya ditengah gelap.

Menemukan asa ditengah harap.

Kembali pada nyanyian hati,

Tempat diri bertegur sepi.


Berkacalah dengan senyuman,

Tatap dan maknakan.











11

Tik Tok Tik Tok, Stuck



Stuck,

Kehabisan amunisi imajinasi.
Halaman-halaman depan yang kosong.
Sekosong otak bebalku saat ini.
Matahari-pun meragu.
bersembunyi di balik awan abu-abu.

Tik tok tik tok.
Jam di dinding mengingatkan waktu untuk terus berlalu.

Stuck,
Kehabisan tinta dan warna-warna.
Melemahkan langkah jari tuliskan kata.
Seperti semut yang tak bertegur sapa.
Dan aku dikejar jam dinding dengan nada-nada konstan-nya.

Tik tok tik tok,
Stuck.

Aku menyerah pada segerombolan asap dan cairan hitam pekat.











11

Senin, 23 Februari 2015

Cangkir Kosong





Senja hampir tuntas mengiring hari.

Kopi-ku masih sepertiga cangkir lagi.
Biru membisu tertutup awan di-sela jingga,
Imaji larut kedalam tanya yang tak terjawab juga.


Negeri ini sedang menderita,
Penghuninya hilang percaya.
Para punggawa saling menikam.
Para patih mengipas sekam.



Langit meluruh jingga di sudut barat,
Kopi-ku kini sisa seperempat.
Kuteguk hingga ampas.
Kureguk berharap puas.


Negeriku sudah semakin gelap,
Kehilangan cahaya sang perantara Tuhan.
Suara jelata berteriak meratap,
Meraba merayap menyongsong isi jawaban.



Cangkir-ku kini kosong.











11

Kamis, 19 Februari 2015

***

Adakalanya kita berhadapan dengan pilihan;


"Membuka halaman baru",atau "Menutup buku".






*Tak dapat dilakukan bersamaan.











11

Pagi dan Hangat Mentari





"Selamat pagi, hari.
Selamat pagi, hangat mentari.
Semoga makna engkau bawa ikut serta."


Untuk-mu, rindu-ku,
Pada-mu, sempurna-ku.











11

Rabu, 18 Februari 2015

Membakar Dendam.





"Jika api menghanguskan sekam,
Maka yang tersisa hanyalah abu.
Jika hati masih menyimpan dendam,
Kata maaf hanya suara angin yang berlalu."



Bakarlah hingga habis pengikatnya.
Lalu tebarkan bersama angin hingga samudra.
Agar dendam tiada ada,
Agar resah hilang makna.











11

Senin, 16 Februari 2015

Mengubur Bangkai dengan Bangkai





Kubur mengubur bangkai dalam kubur tak berlubang.
Menumpuk menggunduk menjadi nisan tak bernama dan bertuan.



Bangkai dosa para pendosa yang tertawa,
Bangkai nista para pemuja dunia raga.
Menguburnya dengan sengketa,
Menumpuknya dengan bangkai semula.



Menyembunyikan-nya, percuma.











11