Tampilkan postingan dengan label #PotMode. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #PotMode. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Juli 2023
Cahaya Langit
Jika langit memiliki cahaya,
Mengapa saat malam hanya gelap yang terlihat ada?
Jika warna tak berhingga,
Mengapa hanya hitam dan putih saja yang terindera oleh mata?
Tidak, tidak.
Gelap adalah pertanda bahwa ada sebagian cahaya yang sampai kesana.
Tidak, tidak.
Warna yang kau lihat hanya terbatas oleh persepsi mata.
Keterbatasan indera adalah niscaya.
Sedangkan Nur melingkupi semuanya.
Berkonjungsi, berkesinambungan dengan segala indera.
Ia diam dalam tanya disetiap ragu yang bersarang disetiap rongga dada.
Cobalah melihat keseluruh sudut.
Cobalah melihat kearah yang mungkin kau luput.
Atau tundukan kepala dalam sujud.
Mungkin kau akan temukan Nur yang tengah berdiam menunggumu untuk mengetuk.
#potmode
Rabu, 19 Januari 2022
Pada Suatu Masa
Apa kerajaan kerajaan di Indonesia lebih banyak hanya menanamkan ilmu yang bersifat ruh (rasa,karsa,budaya) dan metafisika saja,
Sehingga pembangunan fisik kerajaan bersifat sederhana?
Ataukah karena bangsa ini pencinta konflik?
Sehingga semua hancur oleh amarah dan bencana?
Jika benar meninggikan bangunan ruh, maka aku ingin kembali pada masa itu.
Menulis pada lontar atau kayu,
Memahat pada pohon atau batu.
Atau,
Aku akan menjadi perusuh.
Menjadikan raja-raja sebgai musuh.
Menghancurkan mahkota dan tahta hingga runtuh.
Budayaku hanya membunuh.
Tapi aku ada disini juga.
Menuliskan kisah ini pada huruf-huruf tanpa tinta.
Diatas halaman kaca.
Tanpa suara.
Dan negeriku masih dipimpin raja-raja.
Selasa, 18 Januari 2022
Nusantara
Kekacauan demi kekacauan menyeruak.
Menyembunyikan yang tak ingin tampak.
Bising.
Terdengar semakin nyaring.
Meraih kendali fokus konsentrasi.
Lalu terlupakan kembali.
Semua tak akan baik - baik saja.
Sebab langkah telah dibuat.
Semua tak akan kembali sama.
Sebab masa berlalu dengan begitu saja.
Setan kerasukan kuasa.
Iblis tersenyum saja.
Setan menginginkan tahtanya.
Iblis tertawa - tawa.
Nusantara jadi sekedar aksara.
Jumat, 06 Agustus 2021
Fajar Terlalu Singkat
Jingga mulai merekah di ujung timur.
Dan sedari barat aku mengagum.
Bangunkanlah diri yang masih tertidur,
Bangunkanlah mimpi yang masih membelum.
Fajar terlalu singkat terlewat.
Begitu juga masa dan saat.
Selamat datang hari.
Selamat pagi Pemilik Hati.
Sabtu, 17 Juli 2021
Omong Kosong
Kepalaku berat.
Dipenuhi omong kosong.
Langitku gelap.Sebab terang telah kau sembunyikan didalam kantong.
Dan disanalah juga rinduku tersimpan.Yang tak hendak kau kembalikan.
Membiarkannya kering seperti arang.Seakan sedang membunuhnya dengan perlahan.
Sabtu, 10 Juli 2021
Negara QNTL
Negara QNTL.
Dimana penguasa melanggengkan kuasa.
Menyibukkan dirinya dengan pesta-pora.
Negeri yang dipimpin para bedebah.
Hidup dari menghisap keringat dan darah.
Mengaku paling nasionalis dan demokratis.
Menyebarkan propaganda Ketebelece AIUEO.
Merasa paling benar dan yang berbeda adalah najis.
Menyelesaikan masalah negeri dengan lambang dan logo.
Negara QNTL.
Dimana badan usahanya tak pernah untung.
Sisakan hutang yang semakin menggunung.
Dimana aturan dibuat untuk bikin bingung.
Fokus pada yang dicerna lambung
Negara QNTL.
Yang dipimpin para bedebah.
Yang didukung para pendengung.
Yang nuraninya tertutup sampah.
Yang otaknya dipenuhi belatung.
Negeri QNTL.
Kini terdesak di ujung kuku para pejabat-penjahat yang menabur racun dalam makanan untuk dibagikan kepada pemilihnya.
Rabu, 19 Mei 2021
Bunuh Diri Satu Negeri
Hegemoni kekuasaan.
Tekan menekan yang melawan.
Perah-peras hingga belulang.
Melupa waktu akan binasa kemudian.
Pancung.
Revolusi-reformasi-reproduksi.
Onani nalar berbelatung.
Melawan-menggugat-memberi nasihat.
Bunuh diri satu negeri.
Jumat, 26 Maret 2021
Berkawan Dadu
Telah lama langit tak lagi kupandang.
Malam ini bertabur bintang.
Meski awan berkumpul layaknya asap yang kuhisap.
Membawa warna semarak putih dan pekat.
Tak lagi kuhitung #purnama ,
Terlalu lama hingga melupa.
Kawanku dadu.
Dan aku adalah sisi tanpa titik itu.
Kamis, 25 Februari 2021
Jaman Kiwari
Musibah.
Aya wae, aya deui.
Ceurik cape ceurik.
Seuri cape seuri.
Jujur dileyek,
Teu jujur komo deui.
Sapopoe lir ibarat ngalenyap.
Beunta kupanon poe, ngiceup geus aya sandekala.
Sagala garancang.
Digagancang.
Nu pait nu raheut mondok moe.
Si sabar melang.
Si ikhlas mulang.
Nini,
Aki,
Kumaha ngajalanan jaman kiwari?
Rabu, 17 Februari 2021
Martir
Pergerakan akan hadir didalam gelap dan dingin.
Mereka-mereka yang telah memaknakan hidup terasing.
Dibalik tembok-tembok teralis rapat berdinding.
Menjadi martir melawan kekuasaan yang lalim.
Rabu, 27 Januari 2021
Senin, 18 Januari 2021
Penghujung Senja
Hujan di penghujung #senja,
Uap tanah yang mengudara.
Kebosanan semakin menjalar,
Tak hendak beranjak keluar.
Kering perlahan basah.
Begitupun dengan gerah.
Aku masih tetap berdiam,
Bersama gulita malam.
Dan aku masih tak memiliki tanya.
Karena jeda yang tanpa makna.
Minggu, 17 Januari 2021
Ab Waba
Penguasa yang meng-agung-kan kekuasaan.
Menakut-nakuti rakyat dengan kekuatan.
Merangkul dengan mencengkram.
Mencekik dan mengancam.
Negara ini terluka.
Rakyat menderita.
Alam bergejolak,
Langit menolak.
Kebijakanmu mengalirkan darah.
Memuncratkan nanah.
Menolak, kau borgol.
Diam, kau rogol.
Menumpuk hutang dan riba.
Melahirkan segala bala bencana.
Tak ada penolong,
Selain bersujud dan memohon.
Segeralah tunduk-merunduk.
Sebelum ragamu ambruk.
Semoga selalu terbuka untuk kami.
Semoga tak tertutup dan terkunci.
Sabtu, 09 Januari 2021
Teralis Tajam
Teralis-teralis dengan tunggul yang tajam.
Mengkilat di-basah hujan.
Tegak dan angkuh berdiam.
Halau keramahan.
Disiapkan untuk meluka.
Menahan apa yang ada di-muka.
Teralis-teralis tinggi menjulang.
Penanda lemah sang tuan.
Senin, 04 Januari 2021
Tak Ada Alasan
Menjadi bangkai itu pasti.
Tak perduli seberapa tinggi singgasana.
Sebutir padi saja kau siakan,
Runtuh istana yang kelak kau dirikan.
Sabtu, 05 Desember 2020
Masa Menanam Air
Musim begitu dingin.
Panas matahari tersapukan angin.
Menyisakan hangat saja.
Membekukan dinding, besi dan baja.
Inilah masa menanam air.
Menyimpannya pada akar dan tanah.
Menuai saat sungai tak lagi mengalir.
Mengembalikannya pada ladang, kebun dan sawah.
Pangan,
Terlupakan.
Badai cerabut segala yang tertanam.
Banjir luluh lantakkan yang tersimpan.
Badai yang kau buat.
Banjir yang kau rawat.
Bencana, tiada.
Semua hanya rekayasa.
Kamis, 04 Juni 2020
Menelan Asap Lagi
Tak hendak terpejam.
Sedang masa telah meninggalkan kelopak malam.
Ruang di-kepalaku berisi suara kipas angin dan asap tembakau serta kopi basi sisa malam tadi.
Dan sudah lama aku tak bermimpi.
Kembali menelan asap lagi.
Rabu, 03 Juni 2020
Gemuruh landai rasa bersalah.
Kujejas dalam pekat #kopi di pagi yang masih basah.
Semoga segala gundah,
Hilang di hari cerah.
Selasa, 19 Mei 2020
Tuan Benalu
Sepertinya aku mengenalmu, Tuan.
Yang bermulut manis di depan.
Lalu menikam diam-diam.
Sepertinya aku mengetahuimu, Musang.
Yang bersembunyi di dalam selimut keakraban.
Lalu mengepit dari belakang.
Terima kasih atas kubur yang kau urug.
Agar timur tak lagi terang,
Agar #purnama menghilang
Dan pisahkan barat sedari pandang.
Sepertinya aku mengenal dan mengetahuimu, wahai benalu.
Senin, 18 Mei 2020
Tak Hendak Padam
Rindu ini mendendam.
Dada ini semakin sesak.
Tak lagi dapat berdiam.
Harus kuungkap meski hanya berupa kalimat dan sajak.
Bidari, aku merindu.
Dan dalam diam, bara ini tak hendak padam.
Langganan:
Komentar (Atom)