BramaDipo: #PotMode PIN Channel C0019A18A

Pages

Tampilkan postingan dengan label #PotMode PIN Channel C0019A18A. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #PotMode PIN Channel C0019A18A. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juli 2023

Cahaya Langit





Jika langit memiliki cahaya,
Mengapa saat malam hanya gelap yang terlihat ada?
Jika warna tak berhingga,
Mengapa hanya hitam dan putih saja yang terindera oleh mata?

Tidak, tidak.
Gelap adalah pertanda bahwa ada sebagian cahaya yang sampai kesana.
Tidak, tidak.
Warna yang kau lihat hanya terbatas oleh persepsi mata.

Keterbatasan indera adalah niscaya.
Sedangkan Nur melingkupi semuanya.
Berkonjungsi, berkesinambungan dengan segala indera.
Ia diam dalam tanya disetiap ragu yang bersarang  disetiap rongga dada.

Cobalah melihat keseluruh sudut.
Cobalah melihat kearah yang mungkin kau luput.
Atau tundukan kepala dalam sujud.
Mungkin kau akan temukan Nur yang tengah berdiam menunggumu untuk mengetuk.

#potmode

Jumat, 19 Februari 2016

Mengapa ( Aku ) Harus Mati






Otak ku berkarat oleh keringat yang tercampur materi duniawi. Menjadi diam dalam kesendirian menatap hampa ketiadaan.

Tancapkan belati pada perut sendiri. Mengoyaknya hingga terburai usus menunggu mati.

Tak hadir.
Malaikat maut sedang sibuk oleh urusannya sendiri.

Hingga darah mengering dan luka menganga ia tiada. Meninggalkanku dengan kesadaran utuh untuk menyaksikan kematian yang tak berharga.

Kucongkel mata ku dengan jemari, agar tak lagi kusaksikan kematianku sendiri. Namun anyir darah masih tercium.

Kuhantam gagang belati pada hidung agar robek dan tak lagi berfungsi. Percuma, tetesan darah pada genangannya pun masih terdengar.

Kupecahkan gendang telinga, ku-tulikan telinga. Namun kini hati bertanya, kenapa aku harus mati?


#PotMode


Jumat, 05 September 2014

Selama-t Menunggu

Jika ingin di-cintai, 
carilah yang me-cintai, 
bukan yang kita ingin angan-kan.

Ya, cintamu ada di hadap-an. 
Buka-lah kedua tangan-mu untuk peluk-an.
Bersiap dengan ke-bahagia-an-mu di depan.

Tak perlu kau lipat muka itu sekarang.
Saji-kan-lah senyumanmu yang paling menawan.

*untuk seorang kawan.










11

Sabtu, 23 Agustus 2014

Budi Berakar Tanah

Bunga yang paling indah-pun berakar tanah.
Meski menempel pada badan dan kulit yang bukan miliknya.

Berusaha menjadi baik-pun tak ada salah.
Meski berkelok mendaki dan kerikil membuat luka yang selalu ikut serta.


Budi baik belum tentu berbalas kebaikan.
Bersabarlah, tersenyumlah.










11

Kamis, 07 Agustus 2014

Setengah Sempurna

Bulan beranjak naik dengan cahaya setengah sempurna.
Gelap di langit semakin menampilkannya, Bersama kilauan bintang gemintang yang penuh pesona.
Mentari, Mentari, Bayanganmu masih dapat kunikmati.
Melalui pantulan rembulan yang tengah berseri.

Dan lukisan ini akan kubawa kedalam mimpi.
Berharap bahagia menyerta hingga fajar hari.


Semoga.










11



Sabtu, 03 Mei 2014

Ber-ada Di Sekeliling-Mu



Memanggil bala tentara angin.
Memerintahkannya menggerakkan awan agar sembunyikan daratan dari terik siang yang menyilaukan.



Ragu meragu melangkah.
Kanan atau kiri tak mungkin bersamaan.



Hanya jemari yang bergerak,
Tari menari diatas bidang datar.



Matahari menggenggam parang panjang,
tajam dan mengkilap.
Bahkan tameng kulitku tak mampu berbuat banyak.
Memerah coklat lalu hitam melegam.



Ohh, ini siang terlalu berpeluh.
Atau karena aku yang melulu selalu mengeluh.
Bermanja dengan teduh yang meluruh.
Lupa akan harga yang mesti ku bayar penuh.



Ingatlah manusia.
Hidupmu bukan mengenai putih saja.
Tidak selalu mengenai Bahagia.
Dan bukan hanya tentang kamu semata.



Kamu hidup beserta sekelilingmu.
Kamu ada bersama bayangmu.
Nikmatilah duka dan cita-mu.
Peluklah rindu dan dendam-mu.
maka akan kau temui kebijakan di situ.










11

Menegur Sepi

Menemukan cahaya di tengah gelap,
menemukan asa ditengah harap.

Kembali pada nyanyian di hati,
tempat diri bertegur sepi.

Berkacalah pada senyuman,
tatap dan maknakan.










11

Sabtu, 26 April 2014

Sepeninggal Luka

Sepeninggal luka,
tak pernah mengering.
Sisakan nada hampa,
pada syair mengiring.

Aku menyayat dadaku sendiri,
dalam dunia inginku sendiri,
mengubur jiwaku sendiri,
mati, mati sendiri.

Meneruskan langkah.
Tersandung kaki,
oleh kakiku sendiri.

Saat semua telah tenang,
yang tersisa hanyalah arang.
Semua telah terbakar,
oleh apiku sendiri.

mati lah mati sendiri.










11

Apa Ada Sempurna ?!

Ganti baju-mu, rubah warna-mu.
tukar wajah-mu, ganti milik-ku.

Cerobong asap mengendus abu,
tak ada lagi pembakaran di situ.
Kayu-kayu menghilang tergantikan api kering,
tak ada yang rela terbakarkan.

pelana tanpa kuda,
tinta tanpa warna,
bertanyalah,
Apa ada sempurna?!










11

Jumat, 25 April 2014

Pengulangan ini Abadi

Tenggelam dalam lamunan sarat ingatan,
menyisakan jeda, ruang hampa.
Tanyaku berjawab tanya,
pengulangan ini begitu abadi.

Rindu yang terkoyak dendam imaji.
karena tak ada sesuatu pasti.
Sesaat menatap masa yang terjerat asa.
Semua rasa jadi tak bermakna.

kalimat-kalimat hanya deretan kata,
tak memiliki arti, hanyalah bunyi.
Ini waktu kembali lagi,
menuju kehampaan diri.

Pengulangan ini abadi.










11

Minggu, 09 Maret 2014

Kenduri Negeri

Kenduri besar segera datang.
Para patih mempersiapkan pedang.
Seperti akan menghadapi perang.
Unjuk berunjuk siapa menang.

Langit di timur belumlah terang.
Semua begaduh menabuh genderang.
Punggawa-punggawa saling menantang.
Beradu badan beradu tulang.

Rakyat jelata duduk dipinggiran.
Bergumam lalu bertepuk tangan.
Sambil bertanya kedalam angan.
Siapa jagoan yang menjadi pilihan.

Kenduri utama sedang dipersiapkan.
Dimana Raja-raja berebut kekuasaan.
Mengenakan baju kebesaran.
Melangkah gagah bersama rombongan.

Para patih mengatur strategi.
Para raja membawa pusaka.
Ada yg sendiri-sendiri.
Ada pula yang bersama-sama.

Mahkota dan singgasana didepan mata.
Kilauan nya dapat membuat lupa.
Saling membunuh menjadi cara.
Lupakan darah lupakan saudara.

Jelata kembali ke pesawahan.
Tontonan sudah semakin membosankan.
Biarlah penguasa berebut kuasa.
Yang penting di rumah makanan tersedia.










11

Minggu, 23 Februari 2014

Menanti Esok

Udara menjadi lebih dingin setelah hujan membasah. 
Langit malam menjadi lebih gelap sesaat setelah mendung bergulung. 

Ooo. Adakah gelap akan terus mendekap? 
Hingga kapan dingin terus mencengkram? 

Jawabannya adalah esok. 
Jawabannya adalah menunggu. 
Jawabannya adalah bersabar. 
Seperti yang telah dijanjikan. 
Seperti yang telah ditentukan kemudian. 

Jadi,tersenyumlah. 
Esok masih ada.










11