BramaDipo: #C0019A18A

Pages

Tampilkan postingan dengan label #C0019A18A. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #C0019A18A. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2016

Mengapa ( Aku ) Harus Mati






Otak ku berkarat oleh keringat yang tercampur materi duniawi. Menjadi diam dalam kesendirian menatap hampa ketiadaan.

Tancapkan belati pada perut sendiri. Mengoyaknya hingga terburai usus menunggu mati.

Tak hadir.
Malaikat maut sedang sibuk oleh urusannya sendiri.

Hingga darah mengering dan luka menganga ia tiada. Meninggalkanku dengan kesadaran utuh untuk menyaksikan kematian yang tak berharga.

Kucongkel mata ku dengan jemari, agar tak lagi kusaksikan kematianku sendiri. Namun anyir darah masih tercium.

Kuhantam gagang belati pada hidung agar robek dan tak lagi berfungsi. Percuma, tetesan darah pada genangannya pun masih terdengar.

Kupecahkan gendang telinga, ku-tulikan telinga. Namun kini hati bertanya, kenapa aku harus mati?


#PotMode


Minggu, 30 Agustus 2015

Arakata



Anak-ku lahir 7 malam sebelum purnama. Ia datang saat para mantri nagara sedang bermain drama. Dan maharaja sibuk merapikan mahkota.

Ari-ari nya kutanam di sebelah pohon beringin putih yang berbunga satu persatu, malu malu.

Kutanam bersama bangle agar ia terjaga dan memberi hidup bagi kehidupan di atasnya.

Anak-ku lahir 7 malam sebelum purnama, saat kemarau akan memasuki puncaknya di mangsa ke tiga.

Saat api membakar pegunungan, saat gunung memuntahkan lahar, saat ketidakpastian dihadapan dan saat bahan makanan terlilit harga.

Anakku yang lahir 7 malam sebelum purnama, semoga engkau menjadi pelindung yang bijak bagi cahaya-cahaya suci yang kehilangan kilau-nya.

Dan menjaganya agar tetap menyala di hati para pemangku rasa dan raga di atas bentala nagara, nusantara.

Selamat 7 malam nak, purnama telah menggeliat di sudut barat. Berwarna jingga dengan cahaya penuh membulat.

Selamat purnama nak, semoga semesta memberkatimu dan mempersilahkanmu menikmatinya serta kau pun turut menjaganya.









11

Rabu, 06 Mei 2015

Berkawan Iblis

Ooo..

Jadi agar kau dapat muncul ke permukaan,

Maka kau tenggelamkan aku? 

Agar kau dapat selamat,

Maka kau bunuh aku?

Supaya kebaikan ada padamu,

Maka keburukan kau pahat didahiku?

Agar namamu harum,

Maka kau busukkan sikapku?


Terima kasih kawan,

Kebusukkan telah menjadi guru-ku,

Keburukan sudah kunikmati sedari dulu,

Aku telah mati dalam kematianku,

Dan aku memiliki insang untuk bernafas panjang.


Tak perlu takut kawan,

Aku tidak menyimpan dendam.

Sikapmu sudah aku perhitungkan,

Karena Iblis telah memberiku pengetahuan.

Dan hanya iblis pula yang bersikap demikian.


Terima kasih kawan,

Ku ucapkan.







11