Tampilkan postingan dengan label fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fragmen. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 Desember 2018
Menatap pucuk dedaunan yang terkena siraman hujan di pelataran rumah.
Ranting yang kecil terlihat rapuh, seperti tak akan mampu menahan derasnya air yang menimpa sedari langit.
Aku meragukannya,
Aku menganggapnya lemah.
Ia bergerak kekanan-kekiri, keatas dan kebawah.
Hujan membuat ia bertambah kuat.
Air membuat akar mencengkram tanah lebih erat.
Angin sesekali membuyarkan genangan pada daun, membantunya untuk kembali tegak.
Sebuah skenario yang sering aku hiraukan.
Malam ini, ia ceritakan dalam kenangan hujan malam kesekian.
Jumat, 16 Maret 2018
Ulangan
Malam itu, ia ceritakan segala kisah pahitnya. Tentang anak yang telah ia serahkan pada mereka. Tentang kisah kasih yang tak lagi ada. Tentang kehilangan segala rencana akan masa depan. Lalu setelah lama berdiam, kita berciuman, panjang dan penuh kepedihan yang mendalam.
Ia kekasihku masa remaja, kecantikan telah menggerogoti separuh masa hidup yang ia punya. Kecantikan membuat ia terluka dan melukai siapapun yang ada didekatnya. Dan malam itu, ia tumpahkan segala bebannya padaku, dalam sebuah kecupan terakhir dibibir.
Setelah malam itu, ia tutup semua ingatan akan masa-masa biru. Masa yang penuh luka, masa yang tak ingin kembali ada.
Dan malam ini, kamu mengingatkanku akan-nya. Seperti sebuah pengulangan yang berbeda masa, figure dan cerita, namun dengan rasa yang hampir sama.
Rasa yang membuatku merasa begitu kehilangan, pedih, marah, kecewa, lega dan bahagia sekaligus. Kehilangan masa bersama, pedih didada, marah pada keadaan, kecewa ditinggalkan, lega melepas dan bahagia untuk kebahagiaannya. Ya, sebuah pengulangan.
Berbahagialah putri,
Berbahagialah mentari pagi,
Berbahagialah.
Ungkaplah dengan kata atas rasa yang kau punya kelak, agar dapat memberi makna.
Baginya, bagi mereka, bagimu juga.
Cukuplah aku mengagumimu dan merasakan hangatmu dari bumiku.
Langganan:
Komentar (Atom)