Jumat, 19 Februari 2016

Mengapa ( Aku ) Harus Mati

Otak ku berkarat oleh keringat yang tercampur materi duniawi. Menjadi diam dalam kesendirian menatap hampa ketiadaan.

Tancapkan belati pada perut sendiri. Mengoyaknya hingga terburai usus menunggu mati.

Tak hadir.
Malaikat maut sedang sibuk oleh urusannya sendiri.

Hingga darah mengering dan luka menganga ia tiada. Meninggalkanku dengan kesadaran utuh untuk menyaksikan kematian yang tak berharga.

Kucongkel mata ku dengan jemari, agar tak lagi kusaksikan kematianku sendiri. Namun anyir darah masih tercium.

Kuhantam gagang belati pada hidung agar robek dan tak lagi berfungsi. Percuma, tetesan darah pada genangannya pun masih terdengar.

Kupecahkan gendang telinga, ku-tulikan telinga. Namun kini hati bertanya, kenapa aku harus mati?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar