Jumat, 14 Maret 2014

Bersekutu Dengan Kopi




Bersekutu dengan kopi,

Melarutkan lelah kedalam cangkir.
Bersiap menutup hari,
Bersama senja yang segera berakhir.


Hari yang sama,
Cerita yang berbeda.
Rasa yang sama.
Dengan makna yang berbeda.


Terima kasih semesta,
Lelah masih dapat kurasa.
Terima kasih Segala,
Nafas masih dapat kumakna.


Kopi kuaduk perlahan,
Kuhirup satu tegukan.
Asap kuhembuskan.
Dan pahit-pun melarut dalam senyuman.










11

Larutan Senja



Senja merapat,

Bayanganku bergerak menjauhi barat.
Langit-pun memerah.
Meninggalkan biru yang hampir kalah.

Para penghuni hari berarak pulang,
Karena gelap akan segera datang.
Secangkir kopi dan sebatang asap.
Larutkan lelah dan rindu dalam harap.

Kekasihku tak kan datang,
Kekasihku tak kan pulang.
Ia pergi saat gelap.
Ia hilang ditengah pekat.
Biarlah.
Kunikmati saja senja jingga.











11

Minggu, 09 Maret 2014

Kenduri Negeri

Kenduri besar segera datang.
Para patih mempersiapkan pedang.
Seperti akan menghadapi perang.
Unjuk berunjuk siapa menang.

Langit di timur belumlah terang.
Semua begaduh menabuh genderang.
Punggawa-punggawa saling menantang.
Beradu badan beradu tulang.

Rakyat jelata duduk dipinggiran.
Bergumam lalu bertepuk tangan.
Sambil bertanya kedalam angan.
Siapa jagoan yang menjadi pilihan.

Kenduri utama sedang dipersiapkan.
Dimana Raja-raja berebut kekuasaan.
Mengenakan baju kebesaran.
Melangkah gagah bersama rombongan.

Para patih mengatur strategi.
Para raja membawa pusaka.
Ada yg sendiri-sendiri.
Ada pula yang bersama-sama.

Mahkota dan singgasana didepan mata.
Kilauan nya dapat membuat lupa.
Saling membunuh menjadi cara.
Lupakan darah lupakan saudara.

Jelata kembali ke pesawahan.
Tontonan sudah semakin membosankan.
Biarlah penguasa berebut kuasa.
Yang penting di rumah makanan tersedia.










11