Senin, 23 Februari 2015

Cangkir Kosong





Senja hampir tuntas mengiring hari.

Kopi-ku masih sepertiga cangkir lagi.
Biru membisu tertutup awan di-sela jingga,
Imaji larut kedalam tanya yang tak terjawab juga.


Negeri ini sedang menderita,
Penghuninya hilang percaya.
Para punggawa saling menikam.
Para patih mengipas sekam.



Langit meluruh jingga di sudut barat,
Kopi-ku kini sisa seperempat.
Kuteguk hingga ampas.
Kureguk berharap puas.


Negeriku sudah semakin gelap,
Kehilangan cahaya sang perantara Tuhan.
Suara jelata berteriak meratap,
Meraba merayap menyongsong isi jawaban.



Cangkir-ku kini kosong.











11

Kamis, 19 Februari 2015

***

Adakalanya kita berhadapan dengan pilihan;


"Membuka halaman baru",atau "Menutup buku".






*Tak dapat dilakukan bersamaan.











11

Pagi dan Hangat Mentari





"Selamat pagi, hari.
Selamat pagi, hangat mentari.
Semoga makna engkau bawa ikut serta."


Untuk-mu, rindu-ku,
Pada-mu, sempurna-ku.











11

Rabu, 18 Februari 2015

Membakar Dendam.





"Jika api menghanguskan sekam,
Maka yang tersisa hanyalah abu.
Jika hati masih menyimpan dendam,
Kata maaf hanya suara angin yang berlalu."



Bakarlah hingga habis pengikatnya.
Lalu tebarkan bersama angin hingga samudra.
Agar dendam tiada ada,
Agar resah hilang makna.











11

Senin, 16 Februari 2015

Mengubur Bangkai dengan Bangkai





Kubur mengubur bangkai dalam kubur tak berlubang.
Menumpuk menggunduk menjadi nisan tak bernama dan bertuan.



Bangkai dosa para pendosa yang tertawa,
Bangkai nista para pemuja dunia raga.
Menguburnya dengan sengketa,
Menumpuknya dengan bangkai semula.



Menyembunyikan-nya, percuma.











11

Minggu, 15 Februari 2015

Berkaca Pada Indera dan Pengalaman





Kau melakukan kesalahan,

Lalu kau tuding Setan.



Kau tengah menunjuk diri sendiri, Tuan.
Kau tegaskan kau-lah yang layak dipersalahkan.



Jemari-mu menguntai tasbih,
Sementara bibir mengutuk lirih.



Kau sedang mengutuk diri-mu sendiri,kawan,
Sebab kau menghamba pada ketidakberdayaan.



Fana ini bukan tempat untuk saling menyalahkan,
Mari kita berkaca pada indera dan pengalaman.











11

Sabtu, 14 Februari 2015

Tak Ber-batas.




Kasih,

Tak berbatas hari.
Sayang,
Tak berbatas ruang.



Kasih dan sayang,
Tak memiliki batas waktu dan pandangan.



Rayakan kasih-mu setiap waktu,
Ungkapkan sayang-mu meski hanya lewat pandang.



Berbahagia-lah dengan kasih,
Ungkapkan-lah dengan sayang.



Di sekelilingmu penuh kasih dan sayang.












11

Senin, 09 Februari 2015

Sang Nafsu





Aku Babu,
Kamu Babu,

Dia Babu,
Mereka Babu.


"Majikan Kita bernama Nafsu."

Rayuan Kopi



Hujan tak hendak berhenti.

Dingin menetap di sini.



Menakar bubuk kopi,

Didihkan air oleh api,

Bentangkan imaji

Dan berasap lagi.



"Cairkan keluhmu, Nikmati aku."

"Biarkan hangatku,enyahkan dinginmu."











11

Kamis, 05 Februari 2015

Tertidur Lagi



Petir dan hujan tiba riuhkan hening.

Kegaduhan itu lalu terhenti bersama angin.
Kilat sesekali nampak,
Terangi langit sesaat-sekejap.



Dingin menyerta,
Ke-sudut tanya dan luka.
Pilu menjelma,
Ke-dalam raga dan rasa.



Oohh kesetiaan awan,
yang membawa butir-butir hujan.
Hujanilah resah yang ku kandung badan,
Banjiri lah lalu tenggelamkan.



Agar hilang,
Agar terbawa hanyut tanya yang tak berjawaban.



Hujan berhenti. Petir tiada lagi. Angin berdiam diri, Dan aku tertidur lagi.











11

Rabu, 04 Februari 2015

Malam Lima Belas




Purnama purnama,

Keu telanjangi aku malam ini.
Purnama purnama,
Engkau cumbui aku lagi.


Bersama cahaya-mu yang hampir sempurna,
Kau hadir membawa warna-warna makna.
Terangi bumi-ku yang dingin dan gelap,
Memberikan arah pada langkah dan harap.


Purnama purnama,
Peluk-lah aku erat.
Purnama purnama.
Aku rindu teramat sangat.



*selamat purnama, kawan.










11

Cukup-kan lah.



Hidup adalah hidup yang bergulir ke-depan. 

Tidak diam di tempat, apalagi mundur ke-

belakang. Cukup-lah yang ada di belakang 

menjadi kenangan.

Dan ingatlah air sungai yang kau sentuh 

sekarang bukan-lah air sungai yang kau temui 

kemarin atau esok lusa, meskipun tempat dan 

waktu yang sama.



"Hiduplah untuk sekarang,melangkah lah dengan 

pandangan ke depan."











11