Senin, 23 November 2015

Tak Bersuara

Negeri ini berpenghuni tikus dan kecoa.
Hingga manusia tersisihkan dari asalnya.
Lautan pun hambar tak bergaram,
Para tikus mencemari dan mencuri diam-diam.

Sebagian kecoa memungut upeti dari manusia.
Karena jasa telah berbiaya.
Terima kasih kini berselaput pamrih.
Tolong menolong tinggal dongeng semata.
Dan aku hanya bisa diam menyaksikannya saja.

Tak bersuara.

#PotMode

Minggu, 30 Agustus 2015

Arakata



Anak-ku lahir 7 malam sebelum purnama. Ia datang saat para mantri nagara sedang bermain drama. Dan maharaja sibuk merapikan mahkota.

Ari-ari nya kutanam di sebelah pohon beringin putih yang berbunga satu persatu, malu malu.

Kutanam bersama bangle agar ia terjaga dan memberi hidup bagi kehidupan di atasnya.

Anak-ku lahir 7 malam sebelum purnama, saat kemarau akan memasuki puncaknya di mangsa ke tiga.

Saat api membakar pegunungan, saat gunung memuntahkan lahar, saat ketidakpastian dihadapan dan saat bahan makanan terlilit harga.

Anakku yang lahir 7 malam sebelum purnama, semoga engkau menjadi pelindung yang bijak bagi cahaya-cahaya suci yang kehilangan kilau-nya.

Dan menjaganya agar tetap menyala di hati para pemangku rasa dan raga di atas bentala nagara, nusantara.

Selamat 7 malam nak, purnama telah menggeliat di sudut barat. Berwarna jingga dengan cahaya penuh membulat.

Selamat purnama nak, semoga semesta memberkatimu dan mempersilahkanmu menikmatinya serta kau pun turut menjaganya.









11

Kamis, 13 Agustus 2015

Dewi (Hujan) , Setubuhi ingatanku



Usang,

Penat melekat sedari siang.

Debu berkarat dalam keringat.

Gundah semakin sarat mengikat.


Kelabu kelabu, awanku kelabu.


Tak ada angin.

Panas terperangkap di sela-sela udara.

Tak ada geliat.

Kebosanan hinggap menghadap.


Ragu meragu, senjaku ragu-ragu.



Titik air menghujam tiba-tiba.

Bangunkan aku dari kemarau-ku.

Sejukkan angin yang ikut serta.

Hijau mengkilap merayakannya.

Merekatkan tanah yang meretak.

Meluruhkan karat yang tengah memuncak.


Jagad bersuka cita,


Ia hadir bersama kasihnya,

Menumpahkan sejuta cerita dengan senyumannya.

Lampaui masa, menuju kebaruan.

Kau dan kerinduan itu.



Ya, kerinduan akan rasa yang tengah menghilang,

Bersembunyi dalam kemarau,

Dalam penat dan kebosanan raga rasa.



Terima kasih dewi,

Telah singgah di kemarau-ku.

Tumbuhkan kembali hijau dalam coklat-ku.

Mekarkan kembali bunga-bunga hari-ku.



Terima kasih dewi.

Telah sudi menyetubuhi ingatanku.





*diparuh ke 2 awal musim*


‪#‎PotMode‬










11

Senin, 25 Mei 2015

Nyelakain Orang Lain.

#Cerpen


Dalam kemacetan di pusat kota, tiba-tiba;
“ Braakkk ”
Sebuah minivan berwarna hitam menabrak bagian belakang motor seorang pria, setelah sebelumnya menyerempet bagian depan motor yang ku kendarai. Tanpa ada ucapan maaf atau tanda ia menyesalinya maka aku memberikan isyarat dari arah samping kiri mobilnya, berusaha memberi tahu bahwa tak seharusnya ia menelepon ketika sedang berkendara. Lalu pria yang kira-kira berumur lebih tua 5 tahun dari ku dan berperawakan lebih besar dariku itu membuka jendela mobilnya dengan suara ketus “ siapa yang telepon? “ ia berkata sambil memegang handphone di tangan kanannya. Sungguh sebenarnya aku tak mau berdebat, tapi si tolol ini berusaha mendustaiku dengan apa yang aku lihat sebelumnya. Maka kukatakan “ aku lihat kamu tadi telepon, dan kamu nyerempet motorku juga“, lalu ia menjawab “ emang siapa kamu? “ ku bentak ia seketika “ Eh Goblok, keselamatan orang lain lebih penting, jangan sok jago pake mobil. Turun kau! “ . Lalu ia menutup jendelanya setengah. Karena kemacetan masih berlangsung, aku kembali menunjuknya untuk segera menepi. Tapi ia hanya melihat dan berkelit dengan menutup penuh jendela mobilnya.
Dalam hati, aku merasa sangat jengkel dengan sikap pria tersebut. Ia baru saja menyerempetku dan hampir saja melukai pria bermotor tadi. Aku kesal karena pada saat bermobil pun aku selalu sediakan headset untuk jaga-jaga siapa tahu ada telepon penting masuk, atau aku segera menepi jika headset tidak tersedia saat itu. Makanya sangat aku jengah dengan kelakuan pria tersebut.
Mau keren boleh, tapi nyelakain orang itu namanya kampungan boss. Jangan ditiru kelakuan pria tadi ya kawan. Pake headset lebih baik, atau menepilah jika ingin menggunakan handphone.

Selamat sore dan selamat menikmati #Senja yang telah tiba.

***tadi aku tantang dia untuk turun dari mobilnya bukan untuk ngajak berkelahi, tapi niatnya ketika dia turun, aku buru-buru tinggalin dia ngebut pake motor sambil bilang “ dadaghhhhh jeleekkkk, hati-hati dijalan yahhhh “....


:P

Senin, 18 Mei 2015

Munafik kah?

"Yah, kalau tidak ada jalanan berlubang tidak ada proyek musiman mas. Coba nanti lihat di bulan puasa menjelang lebaran, jalanan yang mas lewati tadi pasti dikerjakan." Begitu uraian pak Doni, manager sebuah proyek perumahan di kabupaten kota X yang baru saja kujumpai. Berperawakan kurus, tinggi kira-kira 170cm, berkacamata, umur sekitar 30-an tahun dan jarang sekali tersenyum sedari awal perjumpaan kami. 

"Menurut saya wajar saja mereka bikin-bikin proyek seperti itu, untuk jadi pejabat saja mereka mengeluarkan banyak biaya. Jangan-kan pejabat, kita-kita saja pasti mengeluarkan biaya untuk personalia ketika mau masuk kerja. Zaman sekarang apa sih yang tidak mengeluarkan biaya. Makanya munafik kalau kita anggap ini salah itu salah." Ia melanjutkan pembicaraan tadi dan entah kenapa dadaku bergemuruh, telingaku berdengung seakan mendapat tamparan yang sangat keras dari kalimat terakhirnya tadi. 

"Jadi maksudnya, kalau kita tidak begitu, berarti kita yang tidak wajar ya pak Doni?" ujarku berusaha menimpali. 

"Ya,betul mas. Seperti yang saya bilang, kita tidak perlu munafik. Wajar saja pekerja kecil nyolong-nyolong yang kecil-kecil. Untuk masuk kerja saja kita harus nyogok bagian personalia dahulu kan?" Jawab pak Doni. 

"Hehe.. " Aku hanya mencoba tertawa dihadapannya, berusaha menutupi kegelisahanku dan ketidak-nyamanan dengan pembicaraan tersebut. 

"Baiklah pak Doni, kapan-kapan kita bertemu lagi. Saya harus melanjutkan perjalanan saya. Terima kasih atas waktu-nya pak. Selamat siang dan sukses selalu." Aku segera menutup pembicaraan. 

"Ok mas, silahkan. Selamat siang." Pak doni membalas salam dengan singkat. Dan kami pun berpisah. Aku membelokkan motorku ke arah jalanan berdebu dan berlubang-lubang. Pak Doni kembali menghampiri pekerja-nya yang masih beristirahat makan siang. Telingaku masih berdengung, dadaku masih bergemuruh tak menentu. Dalam hati, aku bertanya, " apa benar aku munafik?"












11

Minggu, 17 Mei 2015

Keadilan Dan Sopir Angkot bagian 2.





"Keadilan itu seperti apa? Katanya kemiskinan itu cobaan, Katanya juga kekayaan adalah cobaan. Masih mending dikasih cobaan kekayaan. Walaupun tidak selamat akhirat, masih bisa nikmatin dunia." 

+ " sabar kang, jalanin aja." Sahutku sambil memiringkan posisi duduk di kursi depan sebelah sopir angkot dengan tetap memandang jalanan yang berlubang. 

"Ya memang sabar, ya memang jalan. Seharian ini dapet uang cuma buat isi bensin. 1 putaran 2 penumpang. 1 putaran balik 3 penumpang. Saya sendiri belum ke-gaji. Saya senyum aja meskipun sebenarnya ingin sekali marah ataupun menangis. Malah kadang merasa seperti orang gila saja, sudah miskin senyum-senyum sendiri padahal lagi pusing kepala. Jadi keadilan itu dimana nya?" Ia bersungut-sungut tanpa sedikitpun ragu dengan kalimat yang diucapkannya. 

+ " Rokok dulu ah kang, temenin saya biar asapnya ramai." Timpalku dengan senyuman seraya menyodorkan sebungkus rokok. 

"Iya mas, saya minta rokoknya sebatang. Terimakasih. Tadi beli 2 batang, 1 diminta calo." 


Asap-pun terbang beradu dengan debu jalanan senja itu bersama keadilan yang ia harapkan.












11

Jumat, 08 Mei 2015

Penghuni Beribu Negeri








Panggil saja aku Abu, hanya matahari yang mengetahui berapa umurku. Aku lahir di negeri berpulau seribu, dimana sumber makanan melimpah ruah menurut ibu-ku. Ya, cukup berlimpah, saat mereka sisakan di dalam tong sampah. Namaku Abu, dimana-pun aku berdiri disitulah rumahku. Kadang aku memiliki taman, terkadang di trotoar jalan. Kadang berselimutkan hujan dan hanya beralaskan koran.

Sebut saja Abu, aku tak pernah mengenal siapapun di dunia ini kecuali ibu. Dan Ia hanya tergeletak tak bernafas pagi itu, di sebuah taman saat matahari masih baru. kini aku sendiri, beberapa lalat, semut dan nyamuk seringkali mengerubungi. Aku cukup senang, mereka terlihat riang. Mencubiti kulitku, berterbangan di sekitarku hingga aku tertidur dan mereka pergi berlalu.

Saat matahari datang dan orang berlalu lalang, aku kembali berjalan. Mengikuti langkah kaki menuruti irama hati. Sekali waktu aku bertamu ke tempat orang-orang berseragam dan memiliki pangkat itu. Aku di tempatkan pada kamar berjeruji, tempat tidur tikar dan makanan pagi serta sore hari. Keesok harinya aku di usir pergi. Aku tersenyum, mereka cukup baik padaku, meskipun malam itu aku di ikat, di bentak dengan menunjuk-nunjuk muka ku di depan meja bersiku.

Sekarang aku lelah, ingin sekali rebah. Setelah seharian berjalan, tak menemukan makanan. Aku duduk dan bersandar di dinding, sebab sisa air hujan di trotoar belum juga kering. Tak lama aku pun tertidur dan bermimpi, negeri ini menjadi taman yang dipenuhi buah-buahan. Dimana siang bertabur bintang. Tak ber-matahari namun begitu terang. Semua orang ber-seragam, putih terang tak ada hitam. Berkumpul di lapangan yang sangat luas, hingga pandang tak memiliki batas. Aku dipanggil oleh makhluk yang menyilaukan mata, untuk menghampirinya segera. Aku diperintahkan mengikutinya, ketempat dimana seharusnya aku berada.

Aku berjalan di belakang, ia harum seperti tercipta dari beratus-ratus kembang. Ketika aku sampai disana, ia segera menghilang sekejap mata dengan silaunya. Setelah aku dapat kembali melihat, ibu telah berdiri didekat. Bersama dengan senyuman kemudian pelukan dan hanya itu yang menjadi ingatan. Kini ragaku terbang, menjauh dari ibu yang melambaikan tangan. Makhluk menyilaukan tadi membawaku pergi sambil membisikan sebuah kalimat; "selamat datang di negeri surga."

Namaku Abu, aku telah kembali pada Tuhan-ku.










11

Rabu, 06 Mei 2015

Berkawan Iblis

Ooo..

Jadi agar kau dapat muncul ke permukaan,

Maka kau tenggelamkan aku? Agar kau dapat selamat,

Maka kau bunuh aku?

Supaya kebaikan ada padamu,

Maka keburukan kau pahat didahiku?

Agar namamu harum,

Maka kau busukkan sikapku?



Terimakasih kawan,

Kebusukkan telah menjadi guru-ku,

Keburukan sudah kupelajari sedari dulu,

Aku telah mati dalam kematianku,

Dan aku memiliki insang untuk bernafas panjang.



Tak perlu takut kawan,

Aku tidak menyimpan dendam.

Sikapmu sudah aku perhitungkan,

Karena Iblis telah memberiku pengetahuan.

Dan hanya iblis pula yang bersikap demikian.



Terimakasih kawan,

Ku ucapkan.












11

Rabu, 29 April 2015

Menemukanmu Dalam Bentuk Asap Dan Abu



Aku menemukanmu pada bejana berisi dupa,
Teronggok berwarna kelabu dalam bentuk abu.
Dan kini engkau membisu,
Tak lagi riuh memanggil namaku.



Dulu,
Itu dulu.


Sekarang, hanya lalat yang mengerubungiku dengan dengung bernada datar.
Dan hanya ayam jantan yang mengucapkan selamat pagi dari balik bilik kamar.


Aku menemukanmu pada puntung rokok yang baru saja kumatikan.
Mengepul sesaat dalam bentuk asap.
Dan kini, engkau menghilang.
Tak lagi mengisi kekosongan ruang.













11

Selasa, 21 April 2015

Tertidur


21 April 2014
-------------







Di trotoar jalan,

Pusat keramaian kota.

Aku menggelar mimpi,

Dalam letih.

Bersama lalat

Dan debu jalanan siang hari.



Semesta adalah rumah,

Disini hanyalah sebagian sudut beranda-nya saja.



Aku tak terlihat.

Karena aku tak perlu dilihat.

Aku tak terdengar,

Karena aku diam,



Identitas-ku hanya satu.

"MANUSIA."












11

Rabu, 15 April 2015

*****












" Jika mati adalah jawaban dari kesulitan, 

Maka aku akan hidup untuk bertahan. "

 Aku.











11

Tak Ada Benih, Tak Ada Bunga







" Seperti memisahkan pantai dan laut, lalu memberi jarak antara-nya.

Seperti juga inginmu, yang belum tentu dapat kucerna."




Mengipas bara agar menyala,

Sedang kayu sudah tak ada.

Memasak air diatas bejana,

Saat hari tak bercahaya.




Tak ada benih, 

Tak ada bunga.

Tak ada air, 

Tiba-lah dahaga.




Biarkan angin, 

Menempa udara.

Mengisi hidup, 

Milikmu juga.











11

Minggu, 12 April 2015

Blue Man Group






Blue Man Group

#PotMode




DESCRIPTION

Street kids.

They only had what was on them.

They did not commit a crime

They seek lawful money.

Provided that enough food for tomorrow.

#kids #street kids #streets #tattoo #temporary tattoos


DETAILS

Camera                     NIKON D3200

Focal Length          48mm

Shutter Speed         1/15 s

Aperture                   f/5.3

ISO/Film                 2800

Category                  Street

Taken                       Dec 11, 2014












11

Sabtu, 11 April 2015

Rayakan Senja Dengan Kopi Tanpa Gula.





Burung kuntul terbang dengan formasi penunjuk arah akan kemana ia pergi.

Dan selalu saja ada yang tertinggal di belakangnya seorang diri.

Dengan ketinggian lebih rendah dari kelompoknya,

Disertai kepakan yang teratur,

Mengikuti arah yang selalu saja sama,

Menuju timur.



Kopi kuteguk,

Ampas tersisakan.

Sebelum dingin merenggut,

Aroma kehangatan.




Kini Senja telah datang

Dan ampas ku-buang.












11

Kamis, 09 April 2015

Ajag.





Jadi, akankah kau torehkan luka yang sudah menganga ini?

Dengan belati yang terbalut karat agar aku segera sekarat?

Atau benamkan aku kedalam tungku penuh abu? 

Lalu kau tarik lagi dan benamkan lagi?


Aku bukan penjahat figuran yang mati lalu hidup kembali. 

Aku adalah tuan yang membayarmu untuk duduk disinggasana itu bersama gerombolanmu.


Ajag. 

Kumuntahkan saja dengan nada. 

Sebab mereka sudah tak punya muka.












11

Selasa, 07 April 2015

Daniel Johnston Dan Aku












Ide-ide bertaburan,

Seperti pasir di saku celana saat bermain di pantai.

Memenuhi setiap ruang,

Lalu hilang saat hari pencucian.

Tak berbentuk,

Hanya-lah butiran.



Daniel Johnston bernyanyi,

Dengan ketukan cepat.

Instrumen dan vokal saling berkejaran,

Memastikan siapa yang akan jadi pemenang.

Lalu berhenti, sunyi yang menang.



Ohh nada-nada miring,

Kemanakah genap mengiring?

Haruskah aku berpura-pura menjadi periang,

Yang menyanyikan lagu disini senang disana senang?



Ide-ide terhenti,

Bersamaan dengan lampu yang mati.

Kini kamarku gelap,

Meninggalkanku dalam lantunan mp3 bajakan Daniel Johnston “I Picture Myself With A Guitar.”










11

Minggu, 29 Maret 2015

Akar Kehidupan Negeri



Daun yang gugur dapat terbarukan,

Meski bukan daun yang sama.

Begitu pula ranting yang patah,

Terbarukan walau berlainan.

Sesungguhnya jika akar yang mati,

Maka berakhir-lah pohon kehidupan.



Rawatlah pohon sedari akar.

Bukan sedari ranting, daun maupun bunga.

Rawatlah negeri ini sedari rakyat.

Bukan sedari menteri, perwakilan maupun pejabat.

Sebab, jika rakyat yang mati,

Maka berakhir pula-lah negeri ini.











11

Rabu, 25 Maret 2015

Waktu, Menelan Harap





Dari arah utara - ke arah selatan
Dengan penunjuk barat dan timur.
Hari berupa bilangan.
Dan ditandai oleh huruf-huruf mati.

Bulan bercahaya melengkung menajam,
Layaknya sebuah senyuman.
Namun yang kulihat hanyalah gelap,
Di langit, bumi dan dunia harap.

Sebab aku tak ada disini.

Jam dinding berputar dengan sombong,
Kerongkonganku-pun seperti menelan biji kedondong.

Memamerkan keperkasaannya,
Meninggalkan yang tertinggal.

Tak ada kompromi,
Tiada negoisasi.
Tak dapat dibohongi,
Tak bisa di curangi.
Mewakili kepastian Tuhan.
Merepresentasikan ke-fana-an.

Manfaatkanlah.
Ia dicipta karena-nya.
Pergunakanlah,
Ia ada beserta-nya.

Atau,
Ia akan meninggalkanmu dalam kehilangan.
Ditengah sepi dengan kepastian.

Ya,
Kematian.











11

Jumat, 20 Maret 2015

#DisiplinKopi


Sudutkan aku,

Sudutkan saja.

Lukai aku,

Lukai saja.



Setelah itu biarkan aku,

Menikmati Senja bersama pekat hitam kopi-ku.











11

Senin, 16 Maret 2015

Terdampar di Laut Mati


Para penipu telah tertipu.

Para pendusta terpedaya.

Menggadaikan nusantara pada sengketa.

Menjual isinya pada para pencela.



Kini,

Negeri ini seperti perahu yang tak memiliki layar,

Ditengah laut yang mati tak ber-arus dan mendayung hanya dengan menggunakan lengan.


Tanpa arah,

Tanpa nahkoda.

Tanpa angin

Dan tanpa memakna.











11

Sabtu, 14 Maret 2015

***




Menemukan cahaya ditengah gelap.

Menemukan asa ditengah harap.

Kembali pada nyanyian hati,

Tempat diri bertegur sepi.


Berkacalah dengan senyuman,

Tatap dan maknakan.











11

Tik Tok Tik Tok, Stuck



Stuck,

Kehabisan amunisi imajinasi.
Halaman-halaman depan yang kosong.
Sekosong otak bebalku saat ini.
Matahari-pun meragu.
bersembunyi di balik awan abu-abu.

Tik tok tik tok.
Jam di dinding mengingatkan waktu untuk terus berlalu.

Stuck,
Kehabisan tinta dan warna-warna.
Melemahkan langkah jari tuliskan kata.
Seperti semut yang tak bertegur sapa.
Dan aku dikejar jam dinding dengan nada-nada konstan-nya.

Tik tok tik tok,
Stuck.

Aku menyerah pada segerombolan asap dan cairan hitam pekat.











11

Senin, 23 Februari 2015

Cangkir Kosong





Senja hampir tuntas mengiring hari.

Kopi-ku masih sepertiga cangkir lagi.
Biru membisu tertutup awan di-sela jingga,
Imaji larut kedalam tanya yang tak terjawab juga.


Negeri ini sedang menderita,
Penghuninya hilang percaya.
Para punggawa saling menikam.
Para patih mengipas sekam.



Langit meluruh jingga di sudut barat,
Kopi-ku kini sisa seperempat.
Kuteguk hingga ampas.
Kureguk berharap puas.


Negeriku sudah semakin gelap,
Kehilangan cahaya sang perantara Tuhan.
Suara jelata berteriak meratap,
Meraba merayap menyongsong isi jawaban.



Cangkir-ku kini kosong.











11

Kamis, 19 Februari 2015

***

Adakalanya kita berhadapan dengan pilihan;


"Membuka halaman baru",atau "Menutup buku".






*Tak dapat dilakukan bersamaan.











11

Pagi dan Hangat Mentari





"Selamat pagi, hari.
Selamat pagi, hangat mentari.
Semoga makna engkau bawa ikut serta."


Untuk-mu, rindu-ku,
Pada-mu, sempurna-ku.











11

Rabu, 18 Februari 2015

Membakar Dendam.





"Jika api menghanguskan sekam,
Maka yang tersisa hanyalah abu.
Jika hati masih menyimpan dendam,
Kata maaf hanya suara angin yang berlalu."



Bakarlah hingga habis pengikatnya.
Lalu tebarkan bersama angin hingga samudra.
Agar dendam tiada ada,
Agar resah hilang makna.











11

Senin, 16 Februari 2015

Mengubur Bangkai dengan Bangkai





Kubur mengubur bangkai dalam kubur tak berlubang.
Menumpuk menggunduk menjadi nisan tak bernama dan bertuan.



Bangkai dosa para pendosa yang tertawa,
Bangkai nista para pemuja dunia raga.
Menguburnya dengan sengketa,
Menumpuknya dengan bangkai semula.



Menyembunyikan-nya, percuma.











11

Minggu, 15 Februari 2015

Berkaca Pada Indera dan Pengalaman





Kau melakukan kesalahan,

Lalu kau tuding Setan.



Kau tengah menunjuk diri sendiri, Tuan.
Kau tegaskan kau-lah yang layak dipersalahkan.



Jemari-mu menguntai tasbih,
Sementara bibir mengutuk lirih.



Kau sedang mengutuk diri-mu sendiri,kawan,
Sebab kau menghamba pada ketidakberdayaan.



Fana ini bukan tempat untuk saling menyalahkan,
Mari kita berkaca pada indera dan pengalaman.











11

Sabtu, 14 Februari 2015

Tak Ber-batas.




Kasih,

Tak berbatas hari.
Sayang,
Tak berbatas ruang.



Kasih dan sayang,
Tak memiliki batas waktu dan pandangan.



Rayakan kasih-mu setiap waktu,
Ungkapkan sayang-mu meski hanya lewat pandang.



Berbahagia-lah dengan kasih,
Ungkapkan-lah dengan sayang.



Di sekelilingmu penuh kasih dan sayang.












11

Senin, 09 Februari 2015

Sang Nafsu





Aku Babu,
Kamu Babu,

Dia Babu,
Mereka Babu.


"Majikan Kita bernama Nafsu."

Rayuan Kopi



Hujan tak hendak berhenti.

Dingin menetap di sini.



Menakar bubuk kopi,

Didihkan air oleh api,

Bentangkan imaji

Dan berasap lagi.



"Cairkan keluhmu, Nikmati aku."

"Biarkan hangatku,enyahkan dinginmu."











11

Kamis, 05 Februari 2015

Tertidur Lagi



Petir dan hujan tiba riuhkan hening.

Kegaduhan itu lalu terhenti bersama angin.
Kilat sesekali nampak,
Terangi langit sesaat-sekejap.



Dingin menyerta,
Ke-sudut tanya dan luka.
Pilu menjelma,
Ke-dalam raga dan rasa.



Oohh kesetiaan awan,
yang membawa butir-butir hujan.
Hujanilah resah yang ku kandung badan,
Banjiri lah lalu tenggelamkan.



Agar hilang,
Agar terbawa hanyut tanya yang tak berjawaban.



Hujan berhenti. Petir tiada lagi. Angin berdiam diri, Dan aku tertidur lagi.











11

Rabu, 04 Februari 2015

Malam Lima Belas




Purnama purnama,

Keu telanjangi aku malam ini.
Purnama purnama,
Engkau cumbui aku lagi.


Bersama cahaya-mu yang hampir sempurna,
Kau hadir membawa warna-warna makna.
Terangi bumi-ku yang dingin dan gelap,
Memberikan arah pada langkah dan harap.


Purnama purnama,
Peluk-lah aku erat.
Purnama purnama.
Aku rindu teramat sangat.



*selamat purnama, kawan.










11

Cukup-kan lah.



Hidup adalah hidup yang bergulir ke-depan. 

Tidak diam di tempat, apalagi mundur ke-

belakang. Cukup-lah yang ada di belakang 

menjadi kenangan.

Dan ingatlah air sungai yang kau sentuh 

sekarang bukan-lah air sungai yang kau temui 

kemarin atau esok lusa, meskipun tempat dan 

waktu yang sama.



"Hiduplah untuk sekarang,melangkah lah dengan 

pandangan ke depan."











11

Jumat, 30 Januari 2015

Metamorf

"Butuh 1 malam untuk menjadi kepompong dan membutuhkan waktu 12 hari untuk menjadi kupu-kupu."
































Terbanglah terbang Kupu-Kupu.











11

Selasa, 27 Januari 2015

Catatan Pinggir.


Ya Zat Yang Satu

namun 

Tak Berhingga.

Pertemukanlah segera penyempurna-ku dengan-ku.

Agar dapat menghampiri kesempurnaan kami, 

sebagai debu Zat-Mu .










11

*2012

Senin, 26 Januari 2015

Senja Bermukim Di Diri.

Senja bermukim, pesan sedari timur telah terkirim.

Gelap menjelang, hari pun menghilang.

Ini masa peralihan, ini waktu perhitungan.

Adakah makna kau jumpakan, adakah makna kau temukan.

Untuk esok yang akan kau temui, untuk esok yang akan kau lalui.

Maka,

Bertanyalah pada diri.










11

***

"Seindah-indahnya kupu-kupu, berasal dari ulat.

  Sebaik-baiknya makanan, akan menjadi kotoran."


Berlaku adil-lah.
Baik dan buruk selalu berdampingan langkah.










11

Selasa, 20 Januari 2015

Lupakan Tangis

Rindu akan membunuh-mu perlahan,
Melalui racun gundah yang kau kenang.
Dunia-mu pun mundur kebelakang,
Karena masa lalu yang kau harapkan.

Sekarang, engkau menangis.
Sedang dihadapanmu pelangi indah menggaris.
Saat ini, engkau bersedih.
Sementara bahagia tinggal kau raih.

Lupakan tangis,
Tak perlu nadi kau iris.

Bergembira-lah,
Dunia begitu cerah.










11

Senin, 19 Januari 2015

Tak Ada Jingga

Hujan mendesak hari.
Gelap menggulung hingga sore ini.

Senja segera tiba
Dan sepertinya jingga tak akan ada.

Waktu hanya melenggang saja.
Bersama dingin,angan dan ingin.

Matahari tak sempat ku-jumpa.
Makna tak sempat aku cerna.

Kepulkan asap bersama irama.
Sambil berharap semoga esok masih ada.










11

Sabtu, 17 Januari 2015

***

Satu
Bumiku-bumimu.
Adalah satu.

Dunia.










11

Menjadi Bagian Dunia Penuh Warna

Warna tidak hanya hitam dan putih saja.
Dunia tak hanya bumi semata.

Dan Ingatlah.

Ber-sayap,tak selalu terbang.
Ber-kaki,tak selalu berdiri.
Berharga,tak selalu harta
Ber-akal,tak selalu pintar.

Maka.

Pergunakanlah akalmu yang berharga
dan langkahkan kaki-mu seperti sayap.

Sebab kepintaran-mu adalah harta,
yang dapat membuat-mu berdiri dan terbang.










11

Kamis, 15 Januari 2015

Selalu Ada

Peluklah aku sejenak,
Aku dalam gelisah sangat.

Kecuplah bibirku sebentar,
Aku tengah hilang sabar.

Kau usap punggungku,
Kau redakan gemuruh di dadaku.

Dan terima-lah kasihku,
Untuk kau yang selalu ada di sisiku.










11

Selasa, 13 Januari 2015

Hujan Belum Datang



" Bu, aku haus. "

- Tunggu nak, hujan belum datang.


" Tapi aku sangat haus, Ibu. "

- Ya nak, hujan masih juga belum datang.


" Kapan hujan datang, Bu? "

- Nanti, ketika air sudah turun.


" Lalu, kapan aku bisa minum Bu? "

- Hujan belum juga turun nak.


" Kenapa hujan tidak segera datang, Bu? "

..........

- " hujan tidak jadi datang, nak. "




*air-pun turun sedari pipinya memenuhi dahaga si anak.










11

Senin, 12 Januari 2015

Fir'aun Tertawa Di Alam Baka

Penyelenggara neraka bersiap mainkan lidah,
tak lupa pasang gigi kuning nan cerah.
'Serakah'.

Menata figur,menggali kubur.
Siapkan citra,mengangkat drama.
'Angkara murka'.

Mengadu tasbih dengan rosario,
batasi pandang dengan pembeda.
'Adu domba'.

Menuntun kambing hitam,
korbankan saat hari penentuan.
'Pancung'.

Skenario ditata dengan luar biasa,
musik padu-padan dalam irama.
'Kebohongan'.

ANARKI.










11