Senin, 10 Oktober 2011

Arus Angin



Bocah dungu,

Selalu saja mengikuti arus angin.
Meskipun akhirnya berputar di dalam lingkaran yang sama dan terjerembab di lubang yang sama.
Masih saja mengharapkan keajaiban datang dengan sendirinya.
Sedangkan kamu tidak tahu apakah ada keajaiban disana.


Ingatkah kau saat badai datang dan kau ikut berputar-putar dalam kekacauannya.
Lalu apa yang kau dapatkan selain muntahanmu sendiri di muka-mu sendiri.
Masihkah kamu syukuri hal itu?


Lalu kau berkata,


“angin selalu memiliki cara untuk tetap ada, meski kau dan aku telah tiada. Ia lebih tua dari kau 

dan aku yang hanya memaknakannya saja. Biarkan ia membawa kita ke arah manapun ia 

mau. Jangan menyesali ataupun berharap kau akan dapat mengalahkannya. Karena ia adalah 

keajaiban itu sendiri.”











11