Sabtu, 11 November 2006

Aku Masih Hidup






Sampanku Abu-abu,
mengambang di sungai kelabu.
Senja yang ungu,
menemani sendu sendiriku.

Ikuti arus, bersama badanku yang kurus.
Tak tahu utara dan tak kutatap barat.

Ya, aku sendiri di dunia tanpa arah angin.
Duniaku penuh haru dan tangis getir.
Aku berkiblat pada dingin.
Cahaya dan tak ada cahaya sama saja.
Benderaku bendera kuning.

Gelap, tentu gelap.
Rumah-rumah terdiri dari warna warni saja.
Warna-warna tak natural,
Warna-warna campuran
Sama seperti tetumbuhan dan pepohonan.
Tak ada lagi hijau, biru putih dan hitam tegas.
Merah-pun menjadi jingga.

Lagu-lagu seperti bunyi tak beraturan.
Suara jangkrik semakin menyakitkan.
Kicauan burung jadi menakutkan.
Dan saat orang-orang telah pergi ke dalam mati.
Aku masih hidup.

Ya, yang sangat menyakitkan disaat aku sadar,
Aku masih hidup.

Sabtu, 07 Oktober 2006

Lipatan Pantat



Nafas,

Seperti butiran padi dalam kuali.
Perlahan habis,
Ya mati.


Iblis,
Adalah sawahnya.
Dan kita berdiri di daratan neraka.
Terdampar dalam negeri kuali,
Bersembunyi pada kulit dan topeng dunia,
Atas nama dosa.
Lalu berbangga seakan menghuni surga.
Sementara nyawa tinggal sepantat saja.


Nafas,
Seperti butiran keringat pada lipatan pantat.
Bau dan pengap.
Iblis,
Adalah lubangnya.
Dan kita berada pada celah antaranya.
Terdampar pada rambut ataukah bulu,
Sama saja.
Bersembunyi pada bibir dan belahan kulit,
Atas nama pantat.
Lalu berbangga,
Seakan menghuni kepala.
Sementara nyawa tinggal sebutir padi saja.
Ya,
sebaiknya Mati-lah.











11